http://www.youtube.com/watch?v=2gegCkjhLSA
Suatu hari Rasulullah memanggil Bilal untuk menghadap Baginda S.A.W. . Rasulullah ingin mengetahui langsung, amal kebajikan apakah yang menjadikan Bilal mendahului langkah baginda S.A.W. di syurga
"Wahai Bilal, aku mendengar derapan langkahmu di depanku di dalam syurga. Setiap malam aku mendengar derapanmu."
Dengan wajah tersipu dan tak mampu menyembunyikan raut bahagianya, Bilal menjawab pertanyaan Rasulullah. "Ya Rasulullah, setiap kali aku berhadas, aku terus berwudhu dan solat sunnah dua rakaat."
"Ya, dengan itu engkau mendahului langkahku di syurga," kata Rasulullah kepada Bilal. Subhanallah, demikian tinggi darjat Bilal bin Rabah di sisi Allah.
Walaupun begitu , hal itu tak menjadikan Bilal meninggi diri dan merasa lebih mulia berbanding yang lain. Dalam lubuk hati kecilnya, Bilal masih menganggap, bahawa dia adalah budak belian dari Habsyah, Ethiopia. Tak kurang dan tak lebih.
Bilal bin Rabah, melaksanakan tugasnya sebagai muadzin saat teakhir sekali semasa Umar bin Al-Khattab menjadi khalifah. Saat itu, Bilal sudah menetap di Syiria dan Umar mengunjunginya.
Saat itu, waktu solat telah tiba dan Umar meminta Bilal untuk mengumandangkan adzan sebagai tanda panggilan solat. Bilal pun naik ke atas kaabah dan bergemalah suaranya.
Semua sahabat Rasulullah, yang ada di sana menangis tak terkecuali. Di antara mereka, tangis yang paling kuat adalah tangisan Umar bin Al-Khattab. Dan itu, menjadi azan terakhir yang dikumandangan oleh Bilal, hatinya sebak mengingati kenangan manis bersama manusia tercinta, nabi akhir zaman .Suatu malam, jauh wafatnya Rasulullah, Bilal bin Rabbah, bermimpi dalam tidurnya. Dalam mimpinya itu, Bilal bertemu dengan Rasulullah.
"Bilal, sudah lama kita berpisah, aku rindu sekali kepada engkau," demikian Rasulullah berkata dalam mimpi Bilal.
"Ya, Rasulullah, aku pun sudah teramat rindu ingin bertemu dan mencium haruman tubuhmu," kata Bilal dalam mimpinya. Setelah itu, mimpi tersebut berakhir begitu saja. Dan Bilal bangun dari tidurnya dengan hati yang gulana dan dirundung rindu.
Keesokan harinya,dia menceritakan mimpi tersebut pada salah seorang sahabatnya. Seperti angin yang berterbangan, kisah mimpi Bilal segera memenuhi ruangan kosong di hampir seluruh penjuru kota Madinah. Tidak menunggu senja, hampir seluruh penduduk Madinah tahu bahawa semalam Bilal bermimpi bertemu dengan nabi junjungannya.
Hari itu, Madinah benar-benar diselubungi rasa kepiluan. Kenangan semasa Rasulullah masih bersama mereka kembali hadir, seakan baru kelmarin saja Rasulullah tiada. Seorang demi seorang dari mereka sibuk meningati kenangannya bersama manusia mulia itu. Bilal sama seperti mereka, terbuai-buai oleh kenangan bersama nabi tercinta.
Menjelang senja, penduduk Madinah bersepakat meminta Bilal mengumandangkan azan Maghrib saat tiba waktunya. Padahal Bilal sudah cukup lama tidak menjadi muadzin sejak kewafatan Rasulullah . Seolah-olah, penduduk Madinah ingin mengembalikan kenangan pada hari itu dengan mendengar azan yang dikumandangkan Bilal.
Akhirnya, setelah diminta dengan sedikit memaksa, Bilal pun menerima dan bersedia menjadi muadzin.Bilal cuba untuk menenangkan dirinya supaya tidak menangis saat melaungkan azan Senjapun datang dan Bilal mengumandangkan azan. Tatkala, suara Bilal berkumandang , Madinah seolah tergamit oleh berjuta memori. Tak tekata hampir semua penduduk Madinah menitiskan air mata. "Marhaban ya Rasulullah," bisik salah seorang dari mereka.
Sebenarnya, ada sebuah kisah yang membuat Bilal menolak untuk mengumandangkan azan setelah Rasulullah wafat. Waktu itu, beberapa saat setelah malaikat maut menjemput kekasih Allah, Muhammad S.A.W., Bilal mengumandangkan azan. Jenazah Rasulullah, belum dimakamkan. Satu persatu kalimat azan dikumandangkan sampai pada kalimat, "Asyhadu anna Muhammadarrasulullah." Tangis penduduk Madinah kedengaran di saat mengantar jenazah Rasulullah S.A.W. . Seperti suara guntur yang hendak membelah langit Madinah.
Kemudian setelah, Rasulullah telah dimakamkan, Abu Bakar meminta Bilal untuk azan. "Azanlah wahai Bilal," perintah Abu Bakar.
Dan Bilal menjawab perintah itu, "Jika engkau dulu membebaskan aku demi kepentinganmu, maka aku akan mengumandangkan adzan. Tapi jika demi Allah kau dulu membebaskan aku, maka biarkan aku menentukan pilihanku."
"Hanya demi Allah aku membebaskanmu Bilal," kata Abu Bakar.
"Maka biarkan aku memilih pilihanku," pinta Bilal.
"Sungguh, aku tak ingin azan untuk seorang pun sepeninggal Rasulullah," lanjut Bilal.
"Kalau demikian, terserah apa kehendakmu," jawab Abu Bakar.
***
Di atas, adalah serba sedikit kisah tentang Bilal bin Rabah, salah seorang sahabat dekat Rasulullah. Seperti yang kita tahu, Bilal adalah seorang keturunan Afrika, Habsyah tepatnya. Kini Habsyah biasa kita sebut dengan Ethiopia.
Seperti penampilan orang Afrika pada umumnya, hitam, tinggi dan besar, begitulah Bilal. Pada mulanya, ia adalah hamba kepada seorang bangsawan Makkah, Umayyah bin Khalaf. Meskipun Bilal adalah lelaki yang berkulit hitam pekat, namun hatinya, bak kapas yang tidak bernoda. Itulah sebabnya, dia sangat mudah menerima hidayah saat Rasulullah berdakwah.
Meskipun dia sangat mudah menerima hidayah, ternyata dia menjadi salah seorang dari sekalian banyak sahabat Rasulullah yang berjuang mempertahankan keimanannya. Antara hidup dan mati, begitu gambaran perjuangan Bilal bin Rabah.
Pengislamannya, suatu hari diketahui oleh majikannya. Sebagai hukumannya, Bilal di siksa dengan berbagai cara. Akhirnya Abu Bakar datang dan membebaskannya dengan sejumlah wang tebusan.
Selain itu , di antara para sahabat, Bilal bin Rabah termasuk yang teguh dalam mempertahankan keimanannya ialah Zurr bin Hubaisy, Abu Bakar, Ammar bin Yasir dan keluarganya, Shuhaib, Bilal dan Miqdad.
Dalam posisi sosial, orang paling lemah saat itu adalah Bilal. Dia seorang perantauan, hamba abdi pula, tak ada yang membela. Bilal, hidup sebatang kara. Tapi itu tidak membuatnya merasa lemah atau tak berdaya. Bilal tahu Allah sebagai penolong dan walinya, itu lebih cukup dari segalanya.
Derita yang ditanggung Bilal bukan kepalang. Umayyah bin Khalaf, sang majikan, tidak berhenti menyiksa Bilal saja. Setelah puas hati menyiksa Bilal, Umayyah pun menyerahkan Bilal pada pemuda-pemuda kafir . Dia diarak mengelilingi kota dengan berbagai siksaan sepanjang jalan. Tapi dia teguh, mengucapkan "Ahad, ahad," puluhan kali dari bibirnya yang mengeluarkan darah.
Bilal bin Rabah, walaupun dalam sosial posisinya sangat lemah, tapi tidak di mata Allah. Ada satu riwayat yang menyatakan betapa Allah memberikan kedudukan yang mulai buat Bilal di sisi-Nya.

No comments:
Post a Comment